Fakta-fakta Cerita Nyata KKN di Desa Penari 2 Mahasiswa Tewas dan lantas Bahasan Raditya Dika
Tiga Hutan yang berada di Jawa Timur ini disebut-sebut merupakan lokasi paling persis setting cerita Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Penari yang tengah viral di media sosial (medsos) utamanya Twitter.
Tiga rimba yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso tempat paling timur Pulau Jawa ini memanglah kondang seram dan angker.
Dimanakah lokasi rimba yang sama bersama cerita KKN di Desa Penari itu?
Teka-teki dimana lokasi cerita horor KKN di Desa Penari yang lagi tengah viral di media sosial lantas pembicaraan hangat netizen.
Cerita horor KKN di Desa Penari viral sesudah dibagikan oleh akun Twitter @SimpleM81378523 secara berseri.
Baca: kami Bukan Bangsa Monyet, Massa Papua Protes Insiden Jatim di Melbourne
Baca: dari Tiga Bulan jadi Enam Bulan: Visa Warga masih Australia tambah susah Didapat
Baca: Prediksi Skor Persib Bandung vs PSS Sleman Liga 1 2019: Super Elja Ditinggal Sembilan Pemain
Baca: Jadwal Liga Italia 2019 Pekan ke 2, Serie A Giornata 2: Dua Laga Big Match, Lazio vs AS Roma
Pengguna akun Twitter bernama SimpleMan itu menulis cuitan cerita berseri sejak 24 Juni-27 Juli 2019.
Akun selanjutnya menyebutkan kejadian yang dituliskannya berdasarkan kisah nyata mahasiswa KKN di sebuah desa terpencil yang disebutnya Desa Penari.
Penulis menuturkan meski berdasarkan kisah nyata namun ia tak harap menyebut lokasi dimana perihal tersebut.
Begitu termasuk nama-nama mahasiswa KKN yang disamarkannya.
Diceritakan ada 6 mahasiswa yang berasal dari sebuah perguruan tinggi di Kota S Mengerjakan KKN di sebuah area terpencil yang berada di kawasan timur Provinsi Jawa Timur di akhir th. 2009.
Dialog di dalam cerita selanjutnya yakni bahasa Jawa selain itu penulis juga menyertakan terjemahannya di dalam bhs Indonesia.
Enam mahasiswa angkatan 2005/2006 selanjutnya yaitu Widya, Nur, Ayu, Bima, Wahyu dan Anton.
Kota S dipercayai oleh netizen yaitu adalah Surabaya.
Ini berdasarkan pembicaraan pada yang sempat menyebutkan satu salah satu kosakata yang kondang di Jawa Timur, “Cuk. sepedaan tah”.
Kata ‘Cuk’ sendiri memanglah lazim digunakan oleh orang-orang di Surabaya yang mulanya makian sedangkan berganti arti merasa ‘sapaan akrab’ sesama teman.
Sementara untuk lokasi kabupaten media KKN banyak yang berdebat antara Bondowoso ataukah Banyuwangi.
Kenapa Bondowoso atau Banyuwangi?
Ini berdasarkan pembicaraan antara Widya dan Ayu.
“Nang kota B, gok deso kabupaten K***li** , akeh proker, tak jamin, nggone cocok gawe KKN” (di kota B, di sebuah desa di kabupaten K*******, banyak proker untuk dilakukan tempatnya kompatibel untuk KKN kita).
Penulis juga mengatakan desa media KKN berikut bersama dengan inisial W, “sampailah mereka di Desa W****, sarana mereka bakal mengabdikan diri selama 6 minggu ke depan”
Lokasi tempat KKN selanjutnya menurut penulis termasuk letaknya tak jauh dari sebuah Hutan atau alas berinisial D.
“Mobil berhenti di jalan masuk Hutan D, menempuh perjalanan 4 hingga 5 jam berasal dari kota S”
Hutan D banyak yang menduga itu merupakan Hutan Dadapan yang letaknya berada di Kabupaten Bondowoso.
Viralnya cerita KKN di Desa Penari buat netizen bersepekulasi di mana lokasi-lokasi tersebut.
Akun Facebook Eko Bambang Visianto satu di antara yang menjelaskan analisinya:
Kunci pertama adalah, wajib disepakati bahwa “kisah nyata” tersebut berjalan di Jawa Timur yang dikuatkan bersama pemanfaatan kata “REK’ atau “AREK” sejak cerita dimulai no debate for this.
Kunci ke dua adalah, para mahasiswa KKN itu adalah berasal dari kampus di kota S yang telah dapat dipastikan adalah Kota Surabaya. salah satu saran adalah cuplikan kisah versi Widya (bagian 1) sebagai berikut:
“Cuk. sepedaan tah” kata Wahyu, spontan. kala itu datang yang aneh entah disengaja atau tidak, ucapan yang dikira biasa di kota S, di tanggapi lain oleh lelaki-lelaki itu, wajahnya nampak tidak bahagia dan sinis tajam memirsa Wahyu.
Sudah pada tau kan kalo yang biasa bilang “cak-cuk-cak-cuk” semacam itu adalah para Bonek. Ya memanglah sih, Arema terhitung puas gitu. tapi kan kota mereka berawalan huruf M, bukan S.
Kunci keempat adalah KKN dikerjakan di Kota B dan ada 2 kota yang namanya berawalan huruf B di atas yaitu Bondowoso dan Banyuwangi.
Dari sini nama Bondowoso wajib dicoret karena nggak sesuai berasal dari keseluruhan cerita di pembagian 1 maupun proporsi 2.
Alasannya?
Ada dijelaskan dalam cerita tersebut bahwa untuk menuju kota B wajib melalui kota J yang telah dipastikan itu adalah Kota Jember dan itu nggak wajar.
Karena ngapain jauh-jauh muter ke selatan untuk menuju Bondowoso berasal dari Surabaya.
Lagipula, Bondowoso sebagaimana kabupaten Tapal Kuda lain di wilayah pesisir utara, tidak akrab bersama dengan adat “penari” atau tari-tarian seperti yang dideskripsikan di dalam keseluruhan cerita.
Itu hadir kaitannya dengan kultur etnisitas wilayah-wilayah selanjutnya yang cenderung Madura sentris.
Berbeda bersama wilayah selatan yang konon berasal dari keturunan Majapahit yang lari menuju Bali sesudah kerajaan Hindu paling baru di Pulau Jawa itu runtuh.
Sejak dari Tengger, Lumajang, Puger sampai Banyuwangi selatan, masih banyak kebiasaan dan pemeluk agama Hindu (pura tertua di Indonesia berada di kecamatan Senduro Lumajang).
Apa boleh buat sejak awal Madura memanglah “sudah Islam” agar tidak akrab dengan ritual-ritual semacam sesajen atau menutupi obyek-obyek yang dianggap magis bersama dengan kain berwarna-warni khusus sebagaimana banyak bertebaran didalam cerita KKN di Desa Penari tersebut.
Kota B adalah Banyuwangi semakin diperkuat oleh keresahan ibu Widya sesudah mengetahui bahwa putrinya itu bakal melangsungkan KKN di sana.
Well… meskipun Banyuwangi saat ini adalah kota yang luar biasa pesat kemajuannya dan tenar oleh pariwisatanya yang jadi mendunia, tapi dulu siapa yang tak kenal bersama kota paling ujung timur pulau Jawa itu di dalam hal reputasi dunia magisnya.
Kata SANTET akan senantiasa dikaitkan bersama dengan Banyuwangi, belum mencakup segala macam ajian pengasihan dan lain-lain, hingga dulu hadir pameo, “hati-hati persis orang Banyuwangi”
Jadi, Banyuwangi telah dipastikan untuk dikunci wejangan yang keempat.
Jika tak percaya coba ketik kata kunci “DESA PENARI” di Google dan berasal dari 152.000 entry akan segera mengarahkan pada Kabupaten Banyuwangi dan ajaibnya, di daftar 20 pertama akan mengarahkan pencari antara TARI SEBLANG…
salah satu tarian paling kuno dan mistis di kabupaten itu dimana para penarinya didalam keadaan trance alias tidak paham dan bisa menari sepanjang berjam-jam sampai berhari-hari nonstop.
Dan tersebut ini adalah tiga Hutan yang mungkin media sejarah berikut terjadi.
1. Alas Purwo
Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) berlokasi di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Alas Purwo juga merupakan wilayah Taman Nasional Alas Purwo yaitu taman nasional yang terdapat di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia
Hutan ini berada di ujung timur Pulau Jawa, luasnya 43.420 Ha.
Banyak yang menyebut, Alas Purwo konon merupakan kerajaan jin, sarana di mana seluruh makhluk halus berkumpul.
Beberapa web site menuliskan bahwa andaikata sekali tersesat di dalamnya, maka dijamin tidak bakal dulu bisa terlihat lagi.
Kalau pun sukses maka hidupnya dapat penuh sial.
Menariknya, Alas Purwo juga pernah dikaitkan bersama nama Presiden Sukarno.
Soekarno disebut-sebut pernah menghabiskan waktunya untuk bersemedi di sebuah gua di sana. sedangkan kabar ini tak dulu terverifikasi.
2. Alas Gumitir
Gunung Gumitir merupakan sebuah gunung di perbatasan Kabupaten Jember dengan Kabupaten Banyuwangi.
Lokasinya di Kecamatan Silo dan Kecamatan Kalibaru.
Wikipedia menuliskan gunung ini kadangkala juga disebut bersama dengan nama Gunung Mrawan.
Ada catatan bahwa sejak zaman dulu berjalan raya di Gunung Gumitir telah jadi jalan penghubung terpendek pada Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi.
Gunung Gumitir dipilih sebagai jalur penghubung, dikarenakan membuka ketinggian paling rendah di pada deretan pegunungan yang lain, berasal dari Gunung Raung (utara) hingga Gunung Kidul (selatan).
Asal mula kata Gumitir, gemitir, kumitir, atau kemitir merupakan nama tanaman Tagetes erecta yang resmikan bunga berwarna kekuningan.
Di Bali, bunga gumitir banyak digunakan untuk bikin sesajen (canang sari). dalam kepercayaan Jawa kuno, alang-alang kumitir merupakan nama kahyangan berasal dari Sang Hyang Wenang.
Legenda yang beredar di masyarakat Banyuwangi, nama gumitir berasal berasal dari kisah Damar Wulan.
Setelah Damar Wulan berhasil membunuh dan memenggal kepala Menak Jinggo, ia bersua Layang Seta dan Layang Kumitir, putra kembar patih Logender, di tengah berjalan Keduanya sukses menipu Damar Wulan dan merampas kepala Menak Jinggo.
Gunung sarana keduanya menipu Damar Wulan akhirnya dikenal bersama dengan nama Gunung Kumitir atau Gunung Gumitir.
Menariknya, pada jaman penjajahan Jepang, serdadu Dai Nippon membangun sebuah gua untuk mengawasi jalur kereta api yang melintasi Gunung Gumitir. Gua Jepang berikut terdapat kira-kira 100 mtr. dari Watu Gudang, terbuat berasal dari beton tidak tipis bersama ukuran kurang lebih 6 m × 8 m.
3. Alas Dadapan
Masih menurut catatan di wikipedia, lokasi Desa Dadapan didominasi lahan pertanian.
Di dekat perkampungan, pembagian barat jalan raya, terdapat gudang-gudang bekas pabrik yang tidak bermanfaat menyusul dinonaktifkannya jalur Kereta Api Kabat-Banyuwangi Lama.
Di wilayah bekas rel ini termasuk masih terletak bangunan Stasiun Dadapan yang kini berganti guna jadi tempat tinggal warga.
Perkampungan warga Desa Dadapan terletak antara susunan gang-gang kecil yang mengakses satu identik lain. namun selain itu, terdapat satu jalan yang lumayan besar yang digunakan untuk menuju ke Desa Pondoknongko dan Desa Sukojati. tak hanya itu, di perbatasan menjelang Desa Kedayunan terdapat banyak perumahan dan sebuah rest Ruang bernama Istana Gandrung.
Buka thread cerita KKN di Desa Penari buka ( KLIK LINK INI dan LINK INI )
Fakta-fakta KKN di Desa Penari yang Viral
1. akun Anonim
Penulis cerita ‘KKN di Desa Penari’ merupakan anonim dengan nama ‘SimpleMan’. Cerita itu pun sudah mendapat retweet sampai 11 ribu kali.
2. kejadian th. 2009
Dalam cerita disebutkan bahwa peristiwa horor ‘KKN di Desa Penari’ berjalan antara 2009.
Kala itu, Widya lagi tengah selesaikan salah satu syarat untuk skripsi, yakni KKN.
3. Diikuti 14 Orang
Awalnya cerita menyebutkan bahwa yang mengikuti KKN di Desa Penari berjumlah 6 orang.
Namun kemudian penulis meralat kuantitas terasa 14 orang karena pingin memfokuskan antara cerita.
4. ada 6 Orang yang Terlibat
Dari 14 orang yang memerhatikan KKN di Desa Penari, penulis memfokuskan cerita pada 6 orang.
Pasalnya, keenam orang berikut saling terlibat, yakni Widya, Nur, Ayu, Wahyu, Bima, dan Anton.
5. Dua Versi Tulisan
Sang penulis cerita KKN di Desa Penari membagikan dua versi cerita. Pertama berdasarkan sudut pandang Widya dan ke dua oleh Nur.
6. Ditulis selama 11 Hari
Kisah ‘KKN di Desa Penari’ ditulis sepanjang 11 hari, yaitu sejak 24 Juni 2019 sampai 5 Juli 2019 untuk versi sudut pandang Widya. namun untuk sudut pandang Nur ditulis selama 5 hari, merasa 20 Juli sampai 25 Juli.
7. Lokasi
Banyak netizen yang berspekulasi mengenai wilayah KKN di Desa Penari itu di mana.
Sementara penulis sebatas perlihatkan petunjuk dengan nama kota ‘B’ di bagian Jawa Timur.
8. Sang Penari
KKN di Desa Penari menceritakan Widya yang diikuti oleh seorang penunggu desa.
Belakangan diketahui, penunggu yang dimaksud adalah seorang penari.
9. Dua Orang Tewas
Penulis menceritakan bahwa Ayu dan Bima tewas sehabis merintis KKN di Desa Penari.
Pasalnya, mereka berdua melanggar aturan untuk tak melewati batas yang ditentukan.
10. Pesan Moral
Akhir cerita berasal dari KKN di Desa Penari tunjukkan pesan ethical kepada masyarakat untuk perlu menjaga tata krama di mana pun berada dan juga untuk saling menghargai dan mempertahankan satu sama juga lain.
11. Dibahas Raditya Dika
Cerita ‘KKN di Desa Penari’ juga turut dibahas oleh YouTuber Raditya Dika. lebih-lebih tayangan berikut telah ditonton oleh lebih dari 2 juta orang. (*)
Artikel ini telah tayang dengan judul VIRAL Kisah KKN Horor di Desa Penari yang dianggap di Banyuwangi, 2 Mahasiswa Surabaya Tewas,